Nilai Tukar Uang dan Pengaruhnya Terhadap Investasi


Ajaib.co.id – Apakah kamu sudah memiliki investasi? Jika sudah, apakah kamu sudah mengenal faktor yang menentukan naik atau turunnya nilai investasimu? Jika belum, kamu harus tahu bahwa salah satu faktor utama yang memengaruhi nilai investasi kamu adalah nilai tukar uang. Hal ini sepertinya sudah tak asing di telinga. Yuk, baca ulasan berikut ini.

Apa itu Nilai Tukar Uang?

Menurut Fabozzidan Franco, nilai tukar uang atau disebut juga kurs adalah nilai dari suatu mata uang yang dapat ditukar dengan mata uang lain. Nilai tukar uang memperlihatkan perbedaan harga dari mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lainnya. 

Nilai tukar uang ditentukan oleh pemerintah lewat Bank Sentral. Nah, terdapat beberapa jenis nilai tukar yang dipakai yaitu:

  • Kurs Jual (selling rate) adalah nilai tukar yang digunakan untuk melakukan penjualan mata uang nasional  terhadap mata uang asing.
  • Kurs Beli (buying rate) yaitu nilai tukar yang digunakan untuk melakukan pembelian mata uang asing dengan mata uang nasional.
  • Kurs Tengah (middle rate) ialah nilai tukar antara kurs jual dan kurs beli mata uang asing terhadap mata uang nasional, yang ditetapkan oleh Bank Sentral pada suatu saat tertentu.

Nilai tukar uang memiliki 2 jenis perubahan yakni yang pertama ketika mata uang nasional berubah dan mengalami penguatan sehingga dapat membeli lebih banyak mata uang asing disebut apresiasi. Yang kedua, ketika mata uang nasional berubah dan mengalami pelemahan sehingga hanya bisa membeli lebih sedikit mata uang maka disebut depresiasi.

Faktor yang Memengaruhi Nilai Tukar Uang

Lalu, bagaimana menentukan nilai tukar uang terhadap mata uang lain? Ada beberapa faktor yang menentukan nilai tukar uang suatu negara, yaitu:

Kebijakan Pemerintah

Kebijakan pemerintah sangat menentukan nilai tukar karena pemerintah sebagai regulator harus memastikan bahwa kebijakannya tidak merugikan negara dan sekaligus menentukan peranan negara dalam perdagangan internasional.

Tingkat Inflasi

Perdagangan internasional merupakan dasar dalam nilai tukar uang. Perubahan harga di dalam negeri baik barang maupun jasa terhadap harga luar negeri merupakan faktor yang memengaruhi pergerakan nilai mata uang asing. Contohnya, Malaysia mengalami inflasi yang tinggi sehingga menyebabkan harga barang menjadi lebih mahal.

Hal ini akhirnya menyebabkan penurunan permintaan terhadap barang tersebut. Maka, nilai tukar ringgit akan melemah akibat kurangnya daya beli masyarakat.

Perbedaan Tingkat Suku Bunga

Tingkat suku bunga memengaruhi masuknya modal asing ke suatu negara. Tingkat suku bunga akan memengaruhi pasar valuta asing dan pasar uang. Pada saat terjadi transaksi, bank akan mencari keuntungan dengan memperhatikan perbedaan suku bunga di pasar modal nasional dan internasional. Artinya, bank akan lebih memilih mendapatkan pinjaman murah di pasar uang asing apabila memperoleh tingkat bunga yang lebih rendah daripada pasar kredit nasional dengan tingkat bunga yang lebih tinggi.

Aktivitas Neraca Pembayaran

Nilai tukar mata uang juga dipengaruhi oleh neraca pembayaran, lho! Neraca pembayaran aktif dapat meningkatkan nilai mata uang nasional seiring dengan kenaikan jumlah debitur asing. Jika saldo pembayaran pasif, maka akan mengakibatkan turunnya nilai tukar mata uang nasional yang menyebabkan debitur akan menjual dengan mata uang asing untuk membayar kembali kewajiban mereka.

Tingkat Pendapatan Relatif

Kenaikan pertumbuhan pendapatan harga-harga luar negeri juga faktor lain yang memengaruhi penawaran dan permintaan dalam pasar valuta asing. Nilai mata uang asing melemah apabila pertumbuhan pendapatan nasional naik.

Ekspektasi

Ekspektasi atau prediksi terhadap nilai tukar mata uang suatu negara di masa depan juga dapat memengaruhi faktor nilai tukar. Lho, kok bisa? Karena sifatnya mirip seperti pasar keuangan, maka pasar valuta asing akan cepat bereaksi terhadap berita yang dianggap mempunyai dampak di masa depan.

Pengaruh Terhadap Instrumen Investasi

Setelah penjelasan diatas, tentunya kamu sudah mendapat gambaran mengenai pengaruh nilai tukar terhadap instrumen investasi. Nah, agar kamu semakin paham, kamu bisa melihat nilai tukar rupiah selama masa pandemi COVID-19 yang memengaruhi kinerja beberapa instrumen investasi.

Saham

Bagaimana portofolio saham kamu? Apakah merah membara selama masa pandemi COVID-19? Saham sebenarnya adalah instrumen investasi yang paling terdampak pada ekonomi makro. Pada awal tahun 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada pada level 6.313,13.Namun, pada masa awal pandemi, tepat pada 24 Maret 2020, nilai titik terendah IHSG menyentuh level 3.911,72, terkoreksi sebesar 37,49 persen.

Kemudian kurang dari 5 bulan, nilai tukar rupiah terapresiasi dan pergerakan IHSG membaik sekitar 31,54 persen ke level 5.255,37 per 14 Agustus 2020. Namun, IHSG masih terkoreksi sebesar 16,7 persen dari level pembukaan awal tahun 2020.

Nilai saham umumnya mengikuti pergerakan nilai tukar mata uang, karena saham dipengaruhi dengan kinerja perusahaan. Selama pandemi, nilai tukar rupiah terdepresiasi akibat lemahnya permintaan akan rupiah, disusul oleh indeks dolar yang menguat terhadap nilai tukar rupiah. Selain itu nilai tukar rupiah terdepresiasi akibat lemahnya daya beli masyarakat dan buruknya ekspektasi investor dalam menilai kapan berakhirnya pandemi COVID-19.

Kebijakan pemerintah juga turut memengaruhi turunnya nilai tukar rupiah dengan mengeluarkan beberapa kebijakan untuk menangani meluasnya virus corona, salah satunya dengan memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Sejak PSBB berlaku, banyak perusahaan yang mulai mengurangi kegiatan operasional dan ada juga yang sampai menghentikan kegiatan usaha. Fenomena ini akhirnya membuat kinerja emiten menurun dan pada akhirnya mempengaruhi IHSG.

Nah, mumpung IHSG masih dalam proses rebound menuju level yang sama sebelum masa pandemi, beberapa harga saham emiten bagus juga terpantau sedang diskon. Tidakkah kamu tergiur untuk memiliki sahamnya? Nah, sekarang kamu bisa memiliki saham emiten bagus tersebut dengan hanya mendaftarkan diri dan bertransaksi online melalui aplikasi investasi Ajaib

Emas

Sebagai alat investasi yang memiliki resiko rendah, emas merupakan instrumen yang memiliki kinerja paling oke terhadap nilai tukar rupiah. Karena emas umumnya selalu bergerak berlawanan dengan nilai tukar mata uang.

Apabila nilai tukar rupiah terapresiasi, maka emas cenderung turun, dan begitu sebaliknya. Namun, harga emas tidak selalu mengikuti nilai tukar rupiah. Harga emas terkadang dipengaruhi karena indeks dolar dianggap sebagai penentu harga pasar.

Pada 2 Januari 2020, nilai tukar rupiah berada pada level Rp13.895 per dolar AS. Nah, pada tanggal yang sama, harga emas dipatok Rp771.000 per gram. Namun, pada tanggal 23 Maret 2020, akibat pandemi COVID-19, nilai tukar rupiah berada pada di level terburuk sejak 17 Juni 1998 menyentuh level Rp16.550 per dolar AS.

Dengan begitu, mata uang rupiah anjlok sebesar 19,35 persen sejak awal tahun. Namun, harga emas tidak mengalami penurunan. Bahkan, harga emas pada waktu yang sama menyentuh harga Rp861.000 per gram, artinya harga emas sudah naik sebesar 12,9 persen sejak awal tahun. 

Deposito

Setelah saham dan emas, apakah investasi minim risiko seperti deposito juga terpengaruh? Jawabannya, iya! Imbal hasil deposito dipengaruhi oleh suku bunga Bank Indonesia 7-Days Reverse Repo Date (BI7DRR). Pengambilan keputusan ini dilakukan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia berdasarkan pergerakan nilai tukar rupiah yang terdepresiasi sejak masa pandemi.

Hal ini diperparah dengan pelemahan daya beli masyarakat yang terjadi hingga saat ini. Kita ambil contoh, deposito PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (Persero), pada awal tahun 2020, imbal hasil berupa bunga deposito untuk  tenor 1 bulan sebesar 6 persen, tenor 3 sebesar 6,6 persen, tenor 6 bulan sebesar 6,3 persen, dan tenor 12 bulan sebesar 6,1 persen.

Bila dibandingkan dengan nilai suku bunga deposito per 14 Agustus 2020, deposito PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (Persero) untuk tenor 1 bulan sebesar 4,68 persen, tenor 3 sebesar 5,05 persen, tenor 6 bulan sebesar 5,05 persen, dan tenor 12 bulan sebesar 5,05 persen. Menurun, kan?

Jadi, nilai tukar uang sangat memengaruhi perekonomian suatu negara sehingga secara otomatis juga mempengaruhi instrumen investasinya. Sekarang kamu sudah paham, kan?

Sumber: Kurs (Nilai Tukar) dan Nilai Tukar, dengan perubahan seperlunya.





Source link

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *