Waktu yang Tepat Analisis Fundamental dan Teknikal Saham

analisis rasio keuangan

Dalam berinvestasi saham dikenal 2 analisis utama, yakni analisis fundamental dan teknikal. Dengan memahami cara kerja kedua analisis tersebut, kamu akan mengetahui kapan waktu yang tepat untuk berinvestasi saham.

Ada perbedaan yang sangat mendasar pada kedua analisis tersebut, analisis fundamental berfokus pada kinerja perusahaan di balik saham yang ditransaksikan. Para fundamentalis cenderung tidak peduli terhadap pergerakan harga selama masih berada dalam kisaran Margin of Safety/di bawah harga wajarnya.

Sedangkan analisis teknikal berfokus pada pergerakan harga itu sendiri dan cenderung tidak peduli dengan kinerja perusahaan di balik saham yang ditransaksikan. Seringkali harga efek/saham dan aset keuangan lainnya naik sebelum laporan mengenai kinerja dirilis, peluang inilah yang berusaha ditangkap oleh para analis teknikal.

Perdebatan seru antara analisis
fundamental dan analisis teknikal berlangsung hebat di forum-forum keuangan dan
saham. Para fundamentalis percaya bahwa kita perlu memahami fundamental
perusahaan untuk memprediksi bagaimana kinerja suatu aset. Sedangkan para
penganut paham teknikal percaya bahwa “History
will repeat itself
” atau kinerja masa lalu menggambarkan masa depannya.

Peter Lynch, manajer reksa dana
Fidelity yang legendaris yang adalah seorang pemegang paham fundamental, secara
ringkas menyatakan: “Anda tidak dapat melihat masa depan melalui kaca
spion.” Pernyataan ini didukung oleh Burton Malkiel, profesor ekonomi di
Universitas Princeton. Beliau mendukung gagasan bahwa investor tidak dapat
mengungguli pasar menggunakan analisis teknikal [1].

Tapi keduanya tidak mengindikasikan
bahwa analisis teknikal benar-benar tidak berguna. Profesor Jeremy Siegel dari
Wharton School of Business menemukan bahwa pembacaan grafik dan analisis
teknikal dapat membantu dalam menentukan waktu pembelian dan penjualan efek [1].

Perdebatan ini seperti mencoba menentukan apakah lebih baik mengemudi dengan melihat kaca depan depan saja atau juga menggunakan kaca spion saja. Padahal kita mengemudi dengan melihat kaca depan sambil sesekali mengecek kaca spion, bukan? Keduanya bisa menjadi cara yang berguna untuk menentukan jalan dan kita semestinya bisa bersikap lebih terbuka.

Ada banyak contoh orang-orang yang memanfaatkan analisis fundamental dan teknikal. Dengan mengetahui kapan harus analisis fundamental dan kapan mesti analisis teknikal maka keduanya bisa menguntungkanmu.

Kapan Mesti Gunakan Analisis Fundamental dan Teknikal?

Sebagaimana kita mengemudikan
kendaraan, penulis berpendapat kita tentu harus melihat kaca depan sambil
sesekali melihat kaca spion. Analisis fundamental harus dilakukan di awal,
artinya penyaringan saham dilihat dari indikator fundamental sebaiknya
dilakukan terlebih dahulu. Selanjutnya untuk menentukan kapan saat yang terbaik
untuk masuk dan keluar kamu bisa gunakan analisis teknikal. Karena memang
itulah tujuan analisis teknikal diciptakan.

Dalam penggunaan kedua analisis,
penulis sempat memiliki pengalaman tersendiri di tahun 2017. Berikut analisis
yang pernah penulis buat sebelumnya.

Mendulang Keuntungan di Saham ERAA

Dalam dunia distribusi ponsel, hanya
ada tiga pemain di bursa saham kita yaitu TRIO, TELE dan ERAA. Mengenai
cakupannya, ERAA adalah yang terbesar dengan ekspansi yang terus dilancarkan.
ERAA juga sudah lepas dari jerat masalah keuangan di tahun 2013 dan mulai
profit di tahun 2014.

Pertama kali menganalisis saham ini
adalah di bulan Agustus 2017. Saat itu saham Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA)
diperjualbelikan di harga Rp800-an. Kondisi fundamental dari saham ERAA pada
saat itu dapat dikatakan cukup baik dan mengawali rally/kenaikan harga saham yang luar biasa di tahun 2018.

Financials – PT
Erajaya Swasembada Tbk ($ERAA)

TTM
2017
FY
2016
FY
2015
FY
2014
FY
2013
FY
2012
Revenue
(in Million)
21.241.428 20.547.128 20.007.598 14.451.413 12.727.248 12.883.578
Net
Income (in Mlllion)
276.818 263.755 226.023 212.339 348.652 432.901

Dari tabel di atas kita bisa lihat
bahwa pendapatan dan laba bersih ERAA sudah lama turnaround dari rugi menjadi laba. Anehnya saham ini saat itu masih
anteng bertengger di bawah Rp1000 per lembar saham.

Berdasarkan perhitungan rasio Standar
Deviasi PE, ERAA masih berada dalam kategori undervalued/di bawah harga wajarnya.

PE Ratio (TTM) 3 Years Standard Deviation

Grafik di
atas adalah visualisasi dari rasio standar deviasi PE dari saham ERAA di bulan
Agustus 2017. Dari grafik tersebut ERAA dinyatakan priced in/memiliki harga
wajar jika PE-nya 8,77x (lihat garis oranye di grafik di atas). Sedangkan saat
itu dengan harga 870, PE-nya adalah 8,54x. Maka harga wajar dari ERAA di saat
itu adalah Rp900. Dengan rasio PEG saat itu harga wajarnya adalah Rp1200.

Ketika itu
di bulan September 2017 sebelum ERAA resmi merilis laporan keuangan kuartalnya,
ada indikasi pembelian saham ERAA yang membuat indikator para analis teknikal
memberikan sinyal beli. Jika ada kecenderungan untuk naik ketika harga wajarnya
sudah dekat maka, berdasarkan pengalaman sebelumnya, biasanya harga akan
melesat naik melewati harga wajarnya.

Berikut adalah analisis teknikal dari saham ERAA di bulan Agustus 2017;

Dalam
analisis teknikal di atas kita bisa lihat bahwa ERAA hendak menyentuh
resistance/batas atas di harga 920. Jika berhasil tembus maka berpeluang untuk
naik ke 1020. Penulis mulai akumulasi di harga 870 dan 880.

Dan benar
saja dalam hitungan hari ERAA naik ke 1000, namun tidak mencapai 1020. Penulis
saat itu cuan sekitar 20% dan ERAA balik kandang ke dalam area konsolidasinya.
Ketika ERAA turun, ERAA sedang merilis laporan keuangannya.

Ada yang
aneh saat itu. Ketika ERAA mencatatkan keuntungan kuartalan bertepatan dengan
rilisnya iPhone 8 dan Samsung Galaxy terbaru saat itu di gerai-gerai iBox dan
Erafone milik ERAA, ERAA malah turun menuju ke retracement 700-an.

Karena
penulis menyadari apa yang terjadi, penulis lakukan apa yang Michael Burry
lakukan; penulis jual modal di saham ERAA.

Jadi
singkat saja, dalam berinvestasi Michael Burry adalah seorang penganut paham
fundamental yang juga memperhatikan dari sisi teknikal. Ketika sahamnya naik
50%, ia akan jual modalnya dan sisanya ia endapkan hitung-hitung sebagai lot
gratis. Misalnya di saham DIS, ia membeli sebesar $10,000 di harga $50 per
lembar sahamnya. Dengan begitu ia memperoleh 200 lembar saham DIS.

Lalu
ketika harganya naik ke $75, ia melihat bahwa saham DIS sudah oversold,
modalnya juga sudah berkembang 50% dari $10,000 menjadi $15,000. Jika sudah
begitu ia akan jual sebagian sahamnya untuk memperoleh kembali modal yang sudah
ia keluarkan. Kemudian ia menjual 134 lembar saham DIS dengan total nilai
sebesar $10,000. Dengan begitu ia sudah memperoleh modalnya kembali dan ia masih
punya saham DIS sebanyak 66 lembar di portofolio sahamnya. Di harga bawah Burry
akan akumulasi lagi karena fundamentalnya masih berada dalam jalurnya.

Itulah yang penulis lakukan saat itu. Karena ERAA hendak meluncur turun, penulis jual saham tersebut setara modal sehingga masih ada ERAA tersisa di portofolio saat itu. Penulis jual sebagian di 960.

Grafik
yang dikerjakan saat itu sudah seperti peta pergerakan harga saja. Dengan
berpedoman pada grafik yang dibuat, penulis melihat bahwa harga sudah menyentuh
Support di retracement fibo level harga 700.

Selanjutnya
penulis mulai akumulasi lagi saham ERAA di harga 700. Rencananya penulis akan
beli lagi jika turun di bawah 600, tapi sejak Januari 2018 saham ERAA tidak
turun lagi. Malah terbang hingga ke Rp3140 per lembar saham.

Setelahnya
penulis berterima kasih kepada para analis sekuritas yang mulai menyadari
potensi ERAA dan mempromosikannya setelah rilis Laporan Tahunan di bulan
Februari 2018. ERAA pun “terbang ke bulan” hingga mencapai Rp3140 lebih. Sayangnya
penulis sudah terlanjur jual seluruhnya sebelum harga menyentuh Rp3140, yaitu
di harga Rp2100. Karena tiga baggers
saja menurut penulis sudah cukup saat itu, lagipula sudah jauh melewati harga
wajarnya. Modal penulis di saham ERAA berkembang tiga kali lipat (3 baggers) saat itu dalam waktu beberapa
bulan saja.

Momen
tersebut sempat terulang di saham-saham lainnya yaitu di HOKI, BTPS (sejak
IPO), dan MNCN, sayang modal penulis kecil sehingga cuannya baru sebatas bisa
jalan-jalan keluar kota dan traktiran teman. Belum bisa masuk radar media
karena belum membukukan keuntungan milyaran J.

Tapi
penulis sendiri telah merasakan manisnya analisis fundamental dan teknikal jika
dilakukan secara tepat sesuai waktunya. Penulis sendiri belajar banyak dari
riwayat investasi Michael Burry dan Jim Cramer dalam hal ini.

Belajar dari Michael Burry

Dr. Michael Burry adalah seorang
dokter neurologi yang berhasil memprediksi krisis di tahun 2008 secara tepat
(sebenarnya meleset beberapa bulan sih).
Beliau mendulang keuntungan milyaran dollar dari shortsell yang ia lakukan [2].

Sebelumnya ia adalah orang yang didukung oleh Joel Greenblatt sejak Burry rajin mem-posting ide-idenya di forum MSN Money dan Silicon Investor. Dalam berinvestasi ia mempraktekkan apa yang ia pelajari dari Ben Graham, sang bapak investasi dan strategi Warren Buffet. Tak lupa ia selalu jual modal investasinya saat sahamnya mencapai harga pucuk dengan menggunakan analisis teknikal.

Jika kamu tertarik untuk berinvestasi
seperti Burry, berikut yang ia lakukan;

  • Membeli ketika saham berada dalam
    kisaran margin of safety. Tujuan
    utama Michael Burry adalah untuk mencegah hilangnya modal secara permanen.
    Membeli di bawah harga wajar sangat disarankan.
  • Lakukan analisis fundamental, bottom-up.
    Michael Burry tidak peduli dengan level pasar saham, dan dia tidak memiliki
    batasan pada investasi potensial: bisa berupa saham berkapitalisasi besar,
    kapitalisasi kecil, kapitalisasi menengah, kapitalisasi mikro, teknologi atau
    non-teknologi. Tidak masalah, selama Burry dapat menemukan nilai di dalamnya.
    Meski begitu, Burry telah menemukan bahwa industri yang dibenci orang
    memberikan peluang besar saham perusahaan terbaik dengan diskon besar.
  • Melakukan penyaringan saham dengan
    melihat rasio EV / EBITDA. Rasio yang dapat diterima bervariasi dengan industri
    dan posisinya saat ini dalam siklus ekonomi.
  • Nilai intrinsik ditentukan oleh arus
    kas bebas/free cash flow. Burry cenderung
    mengabaikan rasio harga-pendapatan/ROE dan berpikir bahwa laba atas ekuitas itu
    menipu dan berbahaya karena sering disulap. Burry lebih memilih hutang minimal.
  • Michael Burry berinvestasi dalam saham-saham
    Asset Play (lihat di sini apa itu Asset Play;
    dengan melihat nilai bersih. Jika sebuah perusahaan memiliki saham yang dijual kurang dari dua pertiga
    nilai bersih maka ia akan tertarik. (Nilai bersih = modal kerja bersih dikurangi
    utang, atau perusahaan yang menjual kurang dari nilai likuidasi mereka).
  • Michael Burry percaya bahwa manajemen
    portofolio sama pentingnya dengan memilih saham:
  • Jumlah saham untuk dipegang: Burry suka memegang 12-18 saham saja yang
    terdiversifikasi di antara berbagai industri yang sedang tertekan. Hal ini
    memungkinkannya untuk fokus pada ide terbaiknya. Tujuannya bukan hanya untuk
    mengurangi risiko, tetapi untuk mengurangi stres pribadi.
  • Kapan membeli: Burry menggunakan beberapa analisis teknikal dasar
    untuk menentukan kapan harus membeli saham – khususnya dia lebih suka membeli
    dalam 10-15% dari harga terendah 52-minggu yang telah menunjukkan dirinya untuk
    menawarkan beberapa dukungan harga.
  • Kapan harus menjual: Return
    portofolio Burry biasanya melebihi 50% setiap tahun. Dia tidak takut untuk
    menjual jika sahamnya naik cepat 40% atau 50%. Burry juga akan menjual modal sahamnya.
    Ia juga akan melepas seluruh lot sahamnya jika mencapai titik terendah baru.
    Burry mengatakan ini mencegah saham mana pun untuk meledakkan portofolionya.
  • Berinvestasi bukanlah sains atau
    seni… itu seni ilmiah. Terakhir, Michael Burry mengatakan bahwa analisis fundamental
    bukanlah cara yang pasti untuk berhasil di pasar saham – tetapi setidaknya memberikan
    peluang kepadamu.

Belajar dari Jim Cramer

Jim Cramer didapuk menjadi host Mad Money setelah ia
berhasil mengelola lembaga keuangan kecil yang ia dirikan di tahun 1987. Ia berhasil
mengelola dan mendapatkan pengembalian investasi sebesar 24 persen per tahun
selama 14 tahun lamanya. Dan ia cairkan semuanya di tahun 2001 dan pensiun
dalam keadaan bebas secara finansial.

Cramer melakukan analisis fundamental untuk
memprediksi laba bersih di kurtal berikutnya. Lalu ia akan membeli ketika saham
yang ia incar sudah jatuh melebihi titik terendahnya dalam setahun 52-Week-Low atau
yang disebut dengan Buy on Weakness (BOW).

Strategi pembeliannya cukup sederhana, yaitu dengan
memasang alarm 52-week low dan indikator osilator. Jadi ketika salah satu dari
saham favoritnya menyentuh titik terendah selama setahun (52-Week-Low) dan
stochastics nya menunjukkan oversold/jenuh jual, maka ia akan mulai akumulasi.
Pembelian dilakukan secara mencicil setiap hari di kisaran harga 52-week low.

Seluruh perdagangannya berbasis fundamental. Ia juga
sangat memperhatikan sektor sahamnya, misalnya bila Home Depot mengumumkan
penjualan yang melemah, maka ia berasumsi bahwa perusahaan sejenis di sektor
yang sama akan mengalami hal yang sama. Lalu ia akan memasang alarm oversold di
platform tradingnya.

Jim Cramer mendapat keuntungan compounding/berlipat
sebesar 24 persen setiap tahun selama 14 tahun dengan cara ini.

Kesimpulan

Berdasarkan kisah-kisah di atas, maka sebaiknya kamu
melakukan analisis fundamental sebelum teknikal. Analisis teknikal hanya
membantumu untuk mengetahui kapan masuk dan keluar, sebaiknya tidak dijadikan
penyaringan yang paling pertama untuk dilakukan. Ingat, dalam berkendara menuju
tujuan kita melihat kaca depan sambil sesekali melihat kaca spion. Bukan
sebaliknya, dan bukan hanya melihat kaca depan atau kaca spion saja sepanjang
waktu.

Referensi:

[1] Omar Bassal – Swing Trading for Dummies
[2]
The Vintage Value Investing Guide

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *